
Jika ada yang bilang ku lupa kau, jangan kau dengar…
Jika ada yang bilang ku berubah, jangan kau dengar…
Banyak cinta yang datang mendekat, ku menolak…
Semua itu karena ku cinta kau…
Ku terjaga dari tidurku ketika mendengar lagu itu di telinga. Ya.. sebenarnya hari ini aku lelah sehingga tak biasa-biasanya ku tertidur ketika melakukan perjalanan. Ku melihat kesisi kiri, oh…gunung merapi menjulang tinggi. Ternyata aku sudah berada di Koto Baru, antara Bukittinggi dan Padang Panjang.Gunung itu terlihat jelas, ga berkabut, seakan tersenyum padaku mengingatkanku pada perjalanan-perjalanan yang pernah kulakukan. Sungguh beruntung aku disuguhkan pemandangan seperti ini ketika hari pertama ku pulang kembali ke Padang. Melihat indah dan kokohnya berdiri tegak gunung yang pertama kali kutakhlukkan bersama teman2 kuliah dulu.
Ku mengerti kenapa kuterjaga. Ya…Syair itu membangunkan ingatanku pada perjalanan hebatku beberapa hari yang lalu, menjelajahi gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa. Walau rencanaku untuk menggapai atap tertinggi di Sumatera terus tertunda, aku sangat bersyukur bisa memiliki kesempatan mencapai puncak Mahameru.
Sungguh saat itu adalah pengalaman berharga bagiku. Sejak awal perjalanan, sampai akhirnya aku kembali lagi ke Jakarta. Ingat ketika ku memulai perjalanan di Stasiun Pal Merah, dimana ku dapat melihat pemandangan yang selama ini hanya kudengar. Ya, jurang antara si kaya dan si miskin yang selama ini tidak pernah ku lihat karena kesibukan perkerjaan yang hampir menyita seluruh waktuku, terlihat disana. Rumah triplek, kardus, hanya 1 petakan, terbentang sepanjang perjalanan dari pal merah menuju stasiun tanah abang. Setahun ini pemandangan yang disuguhkan padaku cuma gedung-gedung tinggi. Tapi kali ini, aku melihat wajah Jakarta yang sebenarnya.
Setelah magrib, kami berlima berangkat dengan kereta Bengawan menuju Stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Ini pertama kalinya aku menggunakan kereta ekonomi untuk perjalanan jauh. Dengan bawaan berat itu kami berlari berusaha berebut mendapatkan tempat duduk. Aku salut dengan salah seorang temanku yang bernama Gerry yang mampu membawa carrier berat berisi tenda berlari dengan lincah, sementara aku hanya membawa ransel yang isinya cuma barang2 pribadi. Kami terpisah, gery dan nez berada di gerbong yang berbeda denganku, kakak, dan m’wipy. Tapi aku diberikan tempat duduk oleh orang-orang yang sudah terlebih dahulu nyarter tempat karena aku cewek (sekali lagi gender). Sementara kakak dan m’wipy duduk d lantai dan ga bisa tidur kerena orang selalu lalu lalang sepanjang malam. Ada yang jualan, berjejel, bahkan tertidur dibawah kolong kursi, demi pulang kampung. Demi ketemu dengan keluarga tercinta.
Perjalanan masih jauh. Walau pagi kami sudah nyampe stasiun Lempuyangan Jogja, tapi kami harus nyambung kereta Sritanjung menuju Mojokerto. Kemudian dilanjutkan dengan angkot, bus besar dan bus kecil, barulah kami sampai di Terminal Arjosari Malang sekitar jam 5 sore. Selama perjalanan itu aku selalu mendapatkan tempat duduk, baik di kereta maupun bis. Sementara dari cerita Nez dan Gery, mereka harus melantai selama perjalanan dari Jakarta ke Jogja. Aku merasa ada yang kurang dari perjalananku. Aku tidak merasakan apa yang mereka rasakan.
Di arjosari kami ketemu dengan rombongan yang lain, anak2 STAPALA yang belum pernah ku kenal sebelumnya namun ku langsung merasa dekat setelah berkenalan. Isma, Rian, Ren, Hatta, Gambreng, Kehed, dan Bang Rony. Malam itu kami ga langsung naik, nginap dulu di rumah Pak Ruseno di Tumpang, pemilik truk sayur yang akan mengantar kami esok pagi dengan truk-nya. Malam itu kami repacking kembali melengkapi barang yang belum lengkap, meninggalkan barang yang kurang penting, dan menata carrier sehingga ringan. Sangat beda sekali mendaki bersama temen2 yang cuma sekedar hobi dengan anak2 pencinta alam ini. Peralatan dan persiapannya lengkap, planing dan target-nya matang. Ya, mereka berangkat dengan ilmu. Salah satunya menata carrier yang terlihat berat itu menjadi ringan ketika disandang dengan menarok barang yang ringan seperti sleeping bag di bawah dan yang berat diatas. Hm…Bertambah satu ilmuku.

Menembus dinginnya subuh
Paginya setelah subuh kami berangkat. Sungguh, aku masih ragu. Apa aku masih sanggup? Apakah keikutsertaanku tidak hanya akan merepotkan mereka saja? Ku sudah lama tidak mendaki, dan kurang persiapan pula (cuma sehari sebelumya aku memutuskan ikut mendaki). Apalagi ini gunung tertinggi di jawa, dan aku juga sudah jarang berolah raga belakangan ini. Tapi aku tahu aku akan mencapai puncak, walau katanya puncak tertutup untuk didaki. Ku yakin aku akan sampai puncak. Ku tak akan menyerah sebelum ku mencapainya, dan ku berharap Yang Kuasa merestuinya. Berangkatlah kami menuju Ranupani, desa start pendakian menuju mahameru puncak abadi para dewa.

Bukit Teletubies di kaki gunung Bromo
Sepanjang perjalanan menuju Ranupani, Subhanallah sungguh indah pemandangan yang disugukan. Ladang nan hijau yang tertata rapi, pohon cemara yang berderet, dan yang benar2 subhanallah, bukit teletubbies yang merupakan savana di kaki gunung bromo, sungguh indah tak terkira. Ya, pertengahan tahun kemaren aku memang sempat ke Bromo, tapi ku tak singgah di surga nan indah itu. Tempat yang membuat semua rombongan berteriak takjub sepanjang jalan mengagumi ciptaan-Nya. Hingga tak mempedulikan ranting pohon yang beberapa kali menampar kepala kami. Ya..inilah tujuanku, melihat keagungan ciptaan-Nya yang membuatku merasa sangat kecil diantara kebesaran-Nya.

Nama mereka terukir sebagai penakhluk Mahameru
Di Ranupani ada papan Vandalisme, tempat para pendaki meninggalkan jejak sejarah mereka di mika yang berkilat. Ada juga statistik pendaki dan daftar korban keganasan Mahameru dengan Soe Hok Gie berada di urutan pertama. Kami mendaftar dengan menyerahkan fotokopi KTP, dan memperoleh asuransi. Belum pernah aku melakukan pendakian yang terorganisir seperti ini. Kami start dari sini tepat jam 7.30 pagi.
Tak seperti yang kubayangkan, medannya landai. Hanya sedikit tanjakan, malah juga banyak turunan. Berbeda sekali dengan 2 gunung yang kudaki sebelumnya. Waktu itu bagi kami medan seperti ini kami anggap bonus. PD ku semakin naik untuk bisa mencapai puncak. Tak ada perjalanan malam seperti pendakian dulu, juga tak ada akar2 pohon yang harus kudaki sehingga ku bisa melihat burung berkicau dan melihat mereka terbang tepat dihadapanku. Tak terasa kami sudah melewati ke-4 pos menuju Ranu Kumbolo sebuah telaga luas nan indah dan sering dijadikan tempat camp bagi para pendaki.

Diatas Ranu Kumbolo
Sekali lagi ku terpana, sungguh indah Ranu Kumbolo walau tertutup kabut. Ku tak kuasa menahan keinginanku mencapainya segera. Ku tak peduli terjatuh, yang ku ingin hanya merasakan sejuk air ranukumbolo yang pasti akan mengobarkan semangatku melanjutkan perjalanan ini. Kami makan dan beristirahat disana. Hey, mereka membuat sayur. Sungguh ini adalah kemping sehat. Hehe..
Walau hujan turun, kami tetap melanjutkan perjalanan. Didepan kami ada tanjakan cinta yang sangat terjal. Mitosnya, jika seseorang bisa melewati tanjakan ini tanpa berhenti dan melihat ke belakang, maka dia akan mendapatkan wanita yang diinginkannya. Hm.. apa ini berlaku juga buat cewek? Tapi ga da salahnya dicoba. Walau aku ga percaya, aku tetap mencobanya. Ga da ruginya kan? J
Subhanallah, perjalanan berikutnya ternyata lebih indah. Pohon pinus yang tumbuh jarang, rumput yang berbunga kuning dan ungu, seakan seperti padang rumput di Afrika. Tempat ini namanya oro-oro ombo, pemanngan yang ga akan pernah kutemui ketika mendaki gunung di Sumatera. Kami menuju pos kalimati dimana terdapat edelweis berwarna putih dan tempat dilakukan syuting film Gie. Dan juga tempat kami akan camp malam ini mempersiapkan diri melakukan pendakian ntar malem (insyaallah), serta tempat dimana aku bisa melihat puncak mahameru dengan jelas. Ya Allah, setinggi itukah puncak yang kan kudaki malam ini, tinggi sekali cadasnya. Ada sedikit keraguan dihatiku akan mencapai puncak tepat waktu. Ku yakin kubisa mencapainya, tapi pengalamanku di cadas Merapi membuatku yakin ku tak kan bisa cepat melakukannya. Aku juga tak ingin membuat mreka terlambat hanya gara-gara menungguku nanti. Ya, ku mulai berfikir untuk memohon mereka meninggalkanku berjuang sendiri nanti malam.

Kalimati menuju Arcopodo
Ayam Bakar?? Oh…ini sungguh camp elit. Dua kali pendakianku sebelumnya selalu bermodal mie instan. Tapi kali ini tak sekalipun aku melihat mie instan disugukan kepadaku. Sayur sudah wah.. tapi sekarang malah ayam bakar. Sungguh beda perjalanan kali ini dengan teman-teman baruku ini. Mereka yang bersemangat, heboh, berhasil menularkan semua itu kepadaku sehingga ku serasa kembali ke masa kuliah yang penuh intrik dulu. Apalagi sayup-sayup terdengar lagu cahaya bulan, gie dan dona-dona dari tenda sebelah. Hm..Semakin memperkuat perasaanku saat itu.
Jam 12.30 dini hari, kami berangkat. Alhamdulilah Allah mengijinkanku walau sebelumnya dikabarkan puncak tertutup untuk pendakian. Malam itu tidak hujan, ku benar2 direstui. Terimakasih ya Allah… Ku yakin tanjakan berupa akar pohon bisa kulalui, karena sudah dua kali aku melakukannya. Tapi ketika hamparan pasir terasa dikakiku, aku mulai cemas ku akan melambat. Apalagi satu persatu pendaki yang tadinya dibelakang menyusulku. Tapi ku tetap yakin aku bakal sampai puncak. Ya, seperti yang telah kuduga, aku jadi paling belakang di rombongan. Tapi ada 3 orang yang selalu menungguku ketika ku berhenti. Ku yakin sebenarnya mereka bisa lebih cepat jika tidak menungguku. Dan ku tahu dengan seringnya istirahat begitu akan semakin menguras tenaga mereka di dinginnya malam itu. Ku benar2 merasa bersalah. Ku lihat bang Rony yang selalu memotivasiku dengan bilang ”sudah dekat”, ku lihat Kakak yang ga mau mau maju sebelum memastikanku terus jalan didepannya, dan kulihat Hatta (yang biasa kami panggil wapres) yang selalu membantuku sampai dia sendiri kehabisan tenaga, semua itu benar2 membuatku segera ingin mencapai puncak.
Ku tidak frustasi lagi melihat orang-orang selalu mendahuluiku, karena ku yakin ku juga pasti mencapainya. Ku tak peduli tak ada lagi orang dibelakang kami. Ku bayangkan teman-teman yang pasti sudah kelaparan menunggu logistik dari kami dan pasti menunggu kami dengan cemas. Kenapa belum sampai juga? Apa terjadi sesuatu? Ku lihat kembali wajah kakak, wapres dan bang rony yang setia menungguku, dan akhirnya aku melihatnya.. Ya.. tulisan puncak di dampingi bendara merah putih menghilangkan semua rasa capek-ku. Sujud syukur kulakukan ketika mencapai puncak tertinggi di Jawa itu. Kemudian kuhampiri teman-teman yang menunggu dan menyambut kedatangan kami. Ku menutup mata. Walaupun aku adalah kloter terakhir yang sampai puncak, walaupun ku melihat matahari terbit ketika ku berada di lautan pasir bukan di puncak, tapi ku bangga karena ku tak memutuskan untuk turun kembali sebelum puncak. Ya, ku tak menyerah.

Kami menggapainya...
Ketakutan keduaku muncul ketika akan turun, aku tak bisa turun cepat. Mungkin kecepatan naikku sama dengan kecepatan turunku. Tapi konsekuensi telatku mencapai puncak beresiko kami terkena racun belerang yang disemburkan oleh perut Semeru. Tidak, ku takkan membiarkan orang yang setia menungguku menghadapi ancaman itu. Ku harus cepat. Walau harus meluncur ataupun berlari. Ku takkan membiarkan teman-teman menungguku karena ku tau mereka pasti melakukannya. Ya, benar kata Da Dhika dulu. ”Me, kalo mla ingin mengetahui teman sejati mla, ajaklah dia mendaki gunung. Karena disana semua ego akan muncul, sehingga apa yang dilakukan benar-benar keluar dari dalam hati. Disana akan tampak siapa yang akan meninggalkan mla ketika susah, dan akan tampak siapa yang akan selalu mendukung dan menjaga. Tak ada kepura-puraan. Siapa sebenarnya dia untuk mela, akan tampak disana. Uda bisa jamin itu.” Dan dalam perjalanan ini, tak sedikitpun kutemui ada egoisme. Semua saling melindungi, menjaga dan mendukung. Ku benar-benar bersyukur pernah melakukan perjalanan bersama mereka semua.
Kubisa cepat, tapi perut kiriku sakit sekali. Sekali lagi ku menyusahkan. Ku sungguh tak tahan, ku ingin tidur, ku ingin rasa sakitnya hilang. Tapi sekali lagi ku membuat ku harus ditunggui. Ku yakin perjalananku akan lama, ku minta bang Rony mengabarkan teman-teman yang sudah duluan kalau kami save tapi lama. Ku harus segera sembuh dan cepat turun. Ku tak ingin memberantaki schedule yang sudah mereka susun. Ku tak mau menyusahkan siapapun. Ya, ku mulai mensugesti diri dan ku biarkan perih itu menyayat. Ku ingin cepat sampai dibawah dan ga membahayakan orang yang menemaniku.
Sampai di kalimati ku telat dari jadwal, tapi mereka memintaku istirahat dulu sebelum lanjut. Ketika mereka berberes, ku berkeliling tempat itu. Hm… berat sekali meninggalkannya, kapan lagi ku bisa kesini. Tapi kami harus turun dan camp di Ranu Kumbolo. Dan lagi-lagi karena kesalahanku, karena ku salah jalan, membuat kakak dan kehed yang dibelakangku harus melewati medan terjal yang membuat kaki kakak sangat sakit dan membuatnya harus tertatih-tatih menuruni tanjakan cinta. Kak, maafkan mla..

Ranu Kumbolo yang damai
Malam itu ku belajar menggunakan nesting. Dan walaupun diguyur hujan lebat, tidurku pulas dirasuki kedamaian Ranu Kumbolo. Sampai paginya ku telat bangun dan membuat perjalanan terlambat lagi karenaku terlalu lama mengabadikan setiap sudut Ranu Kumbolo yang juga tak rela kutinggalkan. Ku merasa damai disini, tapi ku harus pulang.
Perjalanan kembali ke Ranupani tak selalu menurun, konsekuensi kami yang juga tak selalu mendaki ketika naik. Dan kami sampai disana sudah tengah hari. Ku kembali jadi kloter terakhir, heheh. Kami turun kembali ke Tumpang setelah makan, namun hanya aku, gery, isma, kakak, dan m’wipy aja. Yang lainnya melanjutkan perjalanan ke Bromo. Sungguh ku ingin ikut jika waktuku tak terbatas. Tapi mimpiku harus berakhir hari ini karena besok rutinitas di Jakarta menungguku.
Sepanjang perjalanan turun ku tak ingin sedetikpun melewatkan pemandangan yang bisa kulihat. Kali ini kutak peduli untuk berfoto disetiap tempat seperti biasanya. Bagiku, yang penting adalah kenangan di ingatanku yang tak kan tergantikan. Namun ku tak lupa membeli kaos bergambarkan mahameru di Tumpang sebagai pengingatku akan perjalanan ini.
Kami ga mungkin lagi mengejar kereta, sehingga perjalanan kami harus ternodai dengan pulang naik pesawat esok paginya. Malam itu kami nginap di rumah keluarga m’wipy yang sangat baik dan ramah di Malang. Sungguh, ku masih berasa mimpi menggapai Mahameru. Ku masih tak percaya ketikaku kembali ke Jakarta. Juga saatku berada di Padang. Semua mimpi ini itu masih bermain dikepalaku disetiap kesempatan.
Malam ini, lagu itu mengantarku tidur kembali. Lagu ini juga yang menemaniku ketika packing sendiri malam sebelum berangkat ke Semeru. Dan lagu ini juga yang tiba-tiba terdengar ketikaku sampai di terminal arjosari. Heheh… selalu ada sountrack dalam setiap kisahku. Yang membuatku mengingat perjalanan itu setiap kali mendegarnya. Tapi kali ini bukan lagu cahaya bulan, gie, ataupun dona-dona. Tapi BCL, hehehe…
Ku tutup Desember 2009 dengan berbagai mimpi yang telah ku capai. Terima kasih Tuhan, terimakasih untuk orang yang telah membantuku mewujudkan semuanya. Ku menutup mata dan kembali melihat puncak Mahameru bersama teman-teman seperjalanku…
Saat kau ingat aku, ku ingat kau..
Saat kau rindu, aku juga rasa..
Ku tau kau slalu ingin denganku…
Kulakukan yang terbaik yang bisa kulakukan
Tuhan yang tahu ku cinta kau…
Padang Panjang, 30 Desember 2009